Pagi ini senin,30 Juni 2010 aku dan saudara kembarku pergi ke Yogyakarta dengan menggunakan bus PATAS jurusan Yogyakarta - Purwokerto. Kami berangkat dari rumah pukul 09:00 WIB. Dalam perjalanan kami mendengarkan lagu yang bernyanyi sepanjang jalan,Selain mendengarkan musik kami juga melihat sawah yang sangat luas. Tak terasa bus sudah sampai ke tempat tujuan dan kami berdua turun dan menuju sebuah mobil travel untuk melanjutkan perjalanan yang kira - kira menempuh jarak kurang lebih 3 km, setelah perjalanan yang sangat jauh kami masih harus berjalan kaki 100 meter untuk sampai di rumah saudara
Rabu, 30 Juni 2010
Rabu, 17 Februari 2010
Deny Indrayana
Meraih doktor di luar negeri bukanlah perkara mudah. Selain persaingan yang begitu ketat, beasiswa yang pas-pasan, juga target waktu kelulusan yang sudah ditetapkan oleh sponsor sangat ketat. Maka mahasiswa harus pintar-pintar mengatur semua kendala tersebut.
Kenyataan ini dialami juga oleh Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D., dosen Fakultas Hukum UGM. Mendengar namanya, tentu kita sudah terbiasa. Tetapi, mengenal lebih dekat siapa sesungguhnya dia, barangkali belum banyak yang punya kesempatan. Maka simaklah uraian berikut:
“Setelah lulus doktor, tentu perasaan saya senang, karena lulus itu memerlukan perjuangan juga. Perjalanan intelektual yang tidak sederhana. Tiga tahun saya di sana. Saya harus mengejar deadline, karena orang biasanya harus selesai dalam waktu 4-5 tahun. Padahal beasiswa saya hanya dikasih tiga tahun. Batas waktu itu cukup menekan. Tapi, di sisi lain memotivasi untuk melakukan yang terbaik. Tentunya setelah selesai ada perasaan lega dan senang karena salah satu tugas telah selesai. Tapi ada perasaan, masih banyak tugas lain yang dilakukan setelah itu”, ujar laki-laki kelahiran 11 Desember 1972 di Pulau Laut ini.
Bung Denny adalah seorang doktor termuda di UGM. Dia sengaja mengambil gelar doktor di luar negeri karena, antara lain sistem pendidikan doktor di luar negeri lebih baik. “Ada beberapa alasan mengapa saya tidak mengambil doktor di UGM, pertama, saya menilai sistem pendidikan di luar negeri masih lebih baik. Dari sisi kualitas, sisi ketersediaan literatur yang berkait dengan teori. Jika berkait dengan literatur penelitian saya, mungkin lebih banyak datanya di sini. Tapi teori tentang constitusion making (pembuatan konstitusi) lebih banyak sumbernya dari luar negeri, salah satunya di Universitas Melbourne, salah satu universitas terbaik dalam bidang hukum di Australia.”
“Kedua, agar saya juga bisa lebih berkonsentrasi. Bila saya menyelesaikan S3 di sini, saya merasa lebih sulit. Karena saya harus membagi waktu dengan banyak hal terutama pekerjaan. Saya harus ngamen ke sana sini karena itu sebagai realitas dosen. Dengan adanya saya di sana saya pikir saya lebih konsentrasi untuk fokus menyelesaikan studi,” tambah peraih Doktor of Philosophy (Ph.D) dari Faculty of Law University of Melbourne Australia 2005.
Selama mengikuti Program Ph.D., Bung Denny sempat pulang tiga kali ke Indonesia untuk penelitian dan seminar.“Tiga tahun saya di sana, sempat pulang tiga kali ke Indonesia karena penelitian lapangan dan undangan seminar di UGM. Tapi 95% saya ada di Melbourne University. Saya sudah kembali setahun yang lalu, dari 2002-2005. Selama menjalani pendidikan di sana saya dibantu dari beasiswa ADS (Australian Development Scholarship)”, ujar peraih master dari University of Minnesota, USA tahun 1997 ini.
***
Bung Denny bukan orang Jawa dan bukan pula dibesarkan di Jawa. Tetapi, dia sangat senang bekerja di UGM. Lalu, di mana dia dibesarkan? “Masa kecil saya nomaden. Saya dilahirkan di pulau kecil, paling selatan pulau Kalimantan, namanya Pulau Laut. Sampai sekarang ini pulau tersebut sering hidup mati penerangan listriknya. Saya sempat duduk di bangku SD di Manokwari Irian Jaya hingga kelas tiga. Akhirnya balik lagi ke Kalsel hingga lulus SMA. Karena saya ikut orang tua yang bekerja di salah satu milik BUMN pemerintah. PT. Perhutani II. Setelah pensiun, bapak saya menggeluti wiraswasta,” ungkap Bung Denny
Bung Denny adalah juga seorang penulis produktif di media pers. Apakah dia memang dapat pelatihan khusus menulis di media pers selama kuliah di Melbourne? “Saya memetik pengalaman selama di Melbourne, terutama intellectual journey. Perjalanan intelektual itu melelahkan, naik turun, secara psikologi, mental dan fisik. Bayangkan, setiap hari saya mesti berangkat dari jam 08 pagi dan pulang jam 12 malam. Setiap hari, termasuk Sabtu dan Minggu. Kegiatan itu sudah menjadi rutinitas. Fulltime saya dikasih waktu untuk menulis disertasi. Ada lah saya jalan-jalan ke pantai dengan keluarga. Itu juga kalau sudah jenuh. Karena di sana saya bawa keluarga. Hampir semua waktu saya tersita untuk disertasi. Kadang saya menulis ke berbagai media massa saat saya merasa jenuh,” ujar lulusan Sarjana Hukum dari fakultas Hukum UGM tahun 1995.
Kendati menulis artikel di media pers bagi Bung Denny hanya untuk menghilangkan jenuh, ternyata artikelnya banyak digemari khalayak. Lalu bagaimana dia menjalani masa-masa menulis disertasinya? “Belajar di sana saya memerlukan banyak konsentrasi. Saya punya ruangan khusus di tempat tinggal saya. Ruangan kamar saya sekat untuk tempat belajar. Di bawah meja belajar saya sediakan kasur atau matras. Kadang kalau saya capek atau jenuh, saya tertidur di bawah meja itu. Barangkali di Australia mungkin hanya saya punya kebiasaan seperti itu. Saya punya target untuk menyelesaikan disertasi ini dalam tepat waktu. Tiga minggu terakhir saya tidur di situ karena istri saya sudah pulang ke tanah air,” ungkap Direktur LSM Indonesian Court Monitoring (ICM) ini.
Masalah biaya hidup bagaimana? Apakah Bung Denny sudah merasa cukup dengan biaya hidup yang diberikan ADS? “Selain kuliah saya juga menjadi loper koran dan buruh di pasar Australia untuk menambah masukan,” tutur pria yang pernah duduk di bangku kelas tiga salah satu SD di Manokwari Papua ini.
***
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Australia, Bung Denny dapat mengkomparasikan pendidikan di luar negeri dan di UGM sendiri. “Kita masih perlu memperbaiki metode pendidikan, memperbanyak ruang kuliah, rasio dosen dan mahasiswa yang lebih ideal, perpustakaan yang lebih lengkap, metode belajar yang lebih aktif, mahasiswa yang lebih aktif. Banyak hal sebenarnya yang bisa dipetik. Diakui, setidaknya di fakultas hukum sendiri belum sampai ke arah sana mungkin sudah mengarah ke sana, tentunya memerlukan upaya kerja keras,” kata Bung Denny yang pernah menjadi asisten pengacara Jeremias Lemek Law Firm Yogyakarta 1994-1995.
Selain menjadi dosen, Bung Denny aktif di LSM Indonesian Court Monitoring, sebagai lembaga pemantau peradilan yang berdiri April 2000. “LSM ini berangkat dari keresahan atas marak kotornya dunia hukum atau dunia peradilan karena praktek-praktek menyimpang atau sering kita sebut dengan mafia peradilan (judicial corruption) dimana hukum diperjual-belikan, diperdagangkan, dinistakan. Kita pikir ada lembaga yang serius yang menyuarakan semangat anti mafia peradilan. Kita di situ adalah teman-teman Fakultas Hukum UGM, aktivis seangkatan dan mahasiswa yang punya keresah-an dan kepedulian yang sama,” kata Ketua Pengkajian Anti Korupsi Fakultas Hukum UGM.
Selama menjadi mahasiswa S-1, Denny muda malah jarang kuliah, mungkin dibilang hanya 25% saya duduk manis di bangku kuliah. Kuliah-kuliahnya lebih banyak di ruang BEM, kegiatan organisasi, diskusi dengan teman-teman di bawah pohon atau di depan musholah. Baginya, kegiatan itu lebih mengasyikan dan merangsangnya untuk lebih semangat belajar. Meskipun demikian, dia bisa lulus dalam 4 tahun dengan IPK 3,23. (Wawancara dan penulisan: Gusti Grehenson).
Minggu, 29 November 2009
Kumpulan kata- kata bijak
Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu. (Benjamin Franklin)
Orang yang bahagia bukanlah orang pada lingkungan tertentu, melainkan orang dengan sikap-sikap tertentu. (Hugh Downs)
Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak, dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi. (Jawaharlal Nehru)
Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan. (Confusius)
Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan ialah berbuat sebaik- baiknya dan berbahagia pada hari ini. (Samuel Taylor Coleridge)
Kesalahan terbesar yang bisa dibuat oleh manusia di dalam kehidupannya adalah terus-menerus mempunyai rasa takut bahwa mereka akan membuat kesalahan. (Elbert Hubbard)
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. (Confusius)
Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. (Alexander Pope)
Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah. (Kahlil Gibran)
Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh. (Andrew Jackson)
Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai. (Schopenhauer)
Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan (D Farhan Aulawi
Sabtu, 24 Oktober 2009
arti dari Clan
A clan is a group of people united by kinship and descent, which is defined by actual or perceived descent from a common ancestor. Even if actual lineage patterns are unknown, clan members may nonetheless recognize a founding member or apical ancestor. The kinship-based bonds may be merely symbolical in nature, whereby the clan shares a "stipulated" common ancestor that is a symbol of the clan's unity. When this ancestor is not human, it is referred to as an animalian totem. Clans can be most easily described as tribes or sub-groups of tribes. The word clan is derived from 'clann' meaning 'children' in the Irish and Scottish Gaelic languages. The word was taken into English about 1425 as a label for the tribal nature of Irish and Scottish Gaelic society.[1] The Gaelic term for clan is fine /finɨ/. Clans are located in every country; members may identify with a coat of arms to show they are a independent clan Organization of clans in anthropology
Some clans are patrilineal, meaning its members are related through the male line; for example, the clans of Armenia. Others are matrilineal; its members are related through the female line, such as in some Native American clans. Still other clans are bilateral, consisting of all the descendants of the apical ancestor through both the male and female lines; the Irish and Scottish clans are examples. Whether a clan is patrilineal, matrilineal, or bilateral depends on the kinship rules and norms of their society.
In different cultures and situations, a clan may mean the same thing as other kin-based groups, such as tribes and bands. Often, the distinguishing factor is that a clan is a smaller part of a larger society such as a tribe, a chiefdom, or a state. Examples include Scottish, Irish, Chinese, Japanese clans and Rajput clans in India and Pakistan, which exist as kin groups within their respective nations. Note, however, that tribes and bands can also be components of larger societies. Arab tribes are small groups within Arab society, and Ojibwa bands are smaller parts of the Ojibwa tribe in North America. In some cases multiple tribes recognized the same clans, such as the bear and fox clans of the Chickasaw and Choctaw tribes.
Apart from these different traditions of kinship, further conceptual confusion arises from colloquial usages of the term. In post-Soviet countries, for example, it is quite common to speak of clans in reference to informal networks within the economic and political sphere. This usage reflects the assumption that their members act towards each other in a particularly close and mutually supportive way approximating the solidarity among kinsmen. However, the Norse clans, the ätter, can not be translated with tribe or band, and consequently they are often translated with house or line.
Polish clans differ from most others as they are a collection of families who bear the same coat of arms, as opposed to claiming a common descent. This is discussed under the topic of Polish Heraldry.
Clans in indigenous societies are likely to be exogamous, meaning that their members cannot marry one another. In some societies, clans may have an official leader such as a chieftain or patriarch; in others, leadership positions may have to be achieved, or people may say that 'elders' make decisions.
Jumat, 07 Agustus 2009
Peristiwa Rengasdenklok
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (a.l. Adam Malik dan Chaerul Saleh dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[1]
Daftar isi[sembunyikan] |
[sunting] Latar belakang
Pada waktu itu Soekarno dan Moh. Hatta, tokoh-tokoh menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI, sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Sebelumnya golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Hasil keputusan disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak Soekarno karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI.
[sunting] Para Pemuda Pejuang di Rengasdengklok
Beberapa orang pemuda yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok ini antara lain:
- Soekarni
- Jusuf Kunto
- Chaerul Saleh
- Shodancho Singgih, perwira PETA dari Daidan I Jakarta sebagai pimpinan rombongan penculikan.
- Shodancho Sulaiman
- Chudancho Dr. Soetjipto
- Chudancho Subeno sebagai pemimpin Cudan Rengasdengklok (setingkat kompi). Chudan Rengasdengklok memiliki 3 buah Shodan (setingkat pleton) yaitu Shodan 1 dipimpin Shodancho Suharjana, Shodan 2 dimpimpin Shodancho Oemar Bahsan dan Shodan 3 dipimpin Shodancho Affan.
- Honbu (staf) yang dipimpin oleh Budancho Martono.